Bersiap! Kiamat Hari Jum’at Tepat Saat Fajar

 Bersiap! Kiamat Hari Jum’at Tepat Saat Fajar

Bogor, PCNU- Hari kiamat menjadi kerinduan semua umat islam. Khususnya yang telah siap dengan bekal amal kehidupan. Kiamat tersebut akan terjadi pada waktu fajar hari Jum’at.


Bagi orang mukmin, kedatangan hari kiyamat terasa ringan seperti “enteng” dalam melaksanakan sholat lima waktu. Namun akan terasa berat dan mengerikan bagi selain mukmin.


Materi itu disampaikan dalam kegiatan Dzikir, Sholawat dan bedah Kitab Hasyyah Miqrotussu’ud Wa Tasydiq karya Syaikh Nawawi Al Bantani yang digelar oleh Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, Kecamatan Gunungsindur,  di Wisata Pancing, Kampung Batutapak, Desa Cidokom, Kabupaten Bogor, Jawabarat pada Minggu (14/3/2021).


Bedah kitab karya ulama Nusantara ini dipimpin oleh Hodari Mahdan Abdallah atau yang akrab disapa Gus Hodari. Dalam pembahasan kiamat, mushonif atau pengarang kitab memaparkan pendapat ulama yang bernama Syaikh Fasyani. Kiyamat yaitu sesuatu yang terjadi secara merata dan berbarengan dengan tiba-tiba atau dadakan. 

Baca Juga :  Do'a Syekh Abdul Qodir Al Jilani Menyambut Sya'ban


“Waktunya pada fajar hari Jum’at untuk bulan dan tahunnya tidak dijelaskan,” beber Gus Khondari pada Minggu (14/3).
Kemudian dijelaskan bahwa Syaikh Nawawi meyakini proses peniupan trompet sangsakala berjumlah dua tahap. Hal itu selaras dengan pemahaman mufasir Yusuf Qordhowi.


“Ada yang berpendapat satu tiupan ada yang dua dan ada juga yang tiga kali tiupan. Semua khilafiyyah, dan Syekh Nawawi meyakini yang dua tiupan,”pungkasnya.
Meski terjadi perbedaan, sambung Gus, para ulama memiliki atau berdasar pada  atsar yang jelas. Bersumber dari Al Quran.”Semua punya dalil. Dan semua ulama tak ada yang menerangkan secara jelas waktu kiamat, tahun maupun bulannya,” terangnya.

Baca Juga :  Nahdlatul Ulama: Tiga Kyai Jombang Pendiri NU


Terpenting dari pengetahuan kiamat, kata Gus adalah memperbanyak amal sholeh untuk bekal di akherat kelak. Setelah kita terbiasa dalam beramal maka kita termaksud orang yang justru merindukan datangnya kematian atau bahkan kiamat.


“Tampa tau jadwal pasti kiamat. Kita bisa terus berbuat baik  dan beramal hingga tiba ajal kita,”ucapnya.

Kegiatan ini merupakan salah satu program yang saat ini tengah digalakkan adalah MDS Gunungsindur.  Syarifuddin, selaku Ketua MDS Rijalul Ansor Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bogor mengatakan keberadaan majelis sebagai wadah untuk terus menjaga syiar. Karenanya para individu membutuhkan wawasan ke islaman yang memadai. 

Baca Juga :  GP Ansor Mengutuk Keras Aksi Bom Bunuh Diri di Gereja Katerdal Makasar


 “Untuk meningkatkan kualitas para pengurus kami rasa penting kegiatan bedah kitab ini, ” katanya.  


Tak hanya untuk mengingat Allah SWT. Adanya majelis ini juga untuk mempelajari dan memperdalam literasi para ulama Indonesia. Sehingga, keilmuan dari ulama tersebut dapat menjadi ruh gerakan. “Semoga bisa terus istiqomah. Setelah kitab ini hatam, kami akan bedah kitab lainnya,” pungkasnya.


Sebelum memulai bedah kitab. Para pengurus MDS lebih dulu membacakan  sholawat. Setelah itu, dilangsungkan bacaan rotib dan tahlil.

Related post