Damiri: GP Ansor Siap Kawal Prodak Intelektual Kader NU

 Damiri: GP Ansor Siap Kawal Prodak Intelektual Kader NU

Bogor, PCNU-Pendalaman literasi ulama dan prodak intelektual warga Nahdliyyin menjadi kekayaan yang patut dimanfaatkan. Hal itu disampaikan oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bogor, Damiri A Ghazali.

Dalams sambutannya, mantan aktivis Perherakan Islam Indonesia ini menerangkan. Adanya GP Ansor adalah untuk pengabdian dalam proses tabarukan (mencari berkah). Sehingga adanya bedah bukuh ini menjadi salah satu realisasi pengabdian.

“Buku ini tersaji berdasarkan penelitisan mendalam dari Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA sebagai mushonif/pengarang buku yaituTugas GP Ansor adalah menjaga para ulama baik fisik maupun ajarannya. Sehingga budaya lslaman menjadi bagian tak terpisahkan”tuturnya.

Selain itu, para anggota GP Ansor dan umumnya para pemuda Nahdliyyin harus memiliki kekuatan intelektual berdasarkan literasi para ulama, masyaikh, dan inteltual NU. 

“Maksud dari diskusi ini diantaranya adalah. Bahwa tradisi literasi dan penguatan intelektual dikalangan muda NU harus dimulai. Dan pembina kita (Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA, red) sudah memulainya. Moga kedepannya menjadi contoh untuk kita semua,” tukasnya.

Damiri juga berjanji. Akan mengawal para kader dan intelektual Nahdlotul ulama yang memiliki karya intelektual. Diantaranya dengan mempublikasi, memfasilitasi dan mengkomersilkan tiap karya tersebut. 

Baca Juga :  Kyai Said, Gus Miftah dan UYM, Gelar konpers Tolak Inves Miras.

Di tempat yang sama Pengasuh Pondok Pesantren Al Rabbani Islamic College Cikeas Bogor Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA, menerangkan. Buku dikarangnya berasal dari hasil disertasi Kiai Ali M. Abdillah untuk mencapai gelar doktor di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah, Islamic Studies, Jakarta.

Peluncuran buku ini dilakukan secara hybrid, yakni secara online yang bisa diakses melalui fanspage Facebook al-Rabbani Islamic College. Dan secara offline dilaksanakan di sebelah sebelah Astana Girijaya di kediaman RAy. Hj. Tito Ahdiyat yang merupakan cucu dari Kyai Muhammad Santri.

Pada buku ini, sejumlah tokoh memberikan apresiasi dan penghargaan. Pertama adalah dari Ketua Umum MUI KH. Miftachul Akhyar. Bahwa, “Dalam mengajarkan Martabat Tujuh, Kyai Muhammad Santri berpegang pada ajaran tasawuf yang mu’tabar dengan praktek syuhud dan istiqamah melaksanakan syariat lahir dan batin. Sehingga terhindar dari pemahaman yang menyimpang (ilhad).

Buku ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai ajaran tasawuf dapat menjadi inspirasi dalam membangkitkan semangat nasionalisme dan berkonstribusi dalma membangun umat dan bangsa.”Selanjutnya, dari Habib Luthfi bin Yahya Rais ‘Am JATMAN dan Anggota WATIMPRES dalam apresiasi beliau juga memberi semangat kepada generasi penerus bangsa sebagai berikut. “Dengan terbitnya buku ini telah berhasil menguak sejarah dan peran para sufi khususnya Kyai Muhammad Santri cucu Pangeran Sambernyawa yang memiliki andil besar dalam melawan penjajah (kolonial). 

Baca Juga :  PC GP Ansor Kabupaten Bogor Komitmen Bersinergi dengan Polri

Para Sufi dalam melawan penjajah menggunakan kebersihan hati dan kejernihan pola pikir dalam menghadapinya. Banyak bukti sejarah para sufi yang berjuang hilang sehingga sulit untuk melacak dan menggali sejarahnya. Padahal para sufi memiliki jasa besar yang dapat dijadikan keteladanan dallam cinta tanah air, cinta bangsa, cinta negara sampai bela negara. Karena itu, membaca buku ini dapat memahami sejarah Kyai Muhammad Santri yang yang bersumber dari manuskrip sebagai salah satu perbendaharaan sejarah sehingga dapat mengangkat ajaran tasawuf Kyai Muhammad Santri. Selain itu, dapat memahami jasa besar Kyai Muhammmad Santri yang ikut berjuang melawan penjajah.

Jangan sampai kita sebagai generasi penerus mengecewakan beliau. Terlalu kecil apabila kita mengucapkan terima kasih kepada beliau. Namun tidak ada yang lebih indah dari ucapan terima kasih kepada beliau tanpa kita dapat menterjemahkan, mengaplikasikan, mensosialisasikan ajaran beliau sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Pengurus Fatayat Harus Berjiwa Aktifis

” Tidak ketinggalan, Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin, ”Sufisme Jawa artinya orang Jawa yang mengamalkan ajaran Islam, khususnya tasawuf dan tarekat, tanpa kehilangan identitas Jawanya.

Perjalanan sejarah bangsa membuktikan bahwa para guru tasawuf, mursyid thariqah, menjadi simpul perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan menegakkan nasionalisme dan kemerdekaan. Buku ini mengurai dengan baik benang merah itu, khususnya dalam memotret Kyai Muhammad Santri, cucu Pangeran Sambernyawa. Sosok sufi pengikut tarekat Sattariyah dan ajaran Martabat Tujuh yang menjadi tokoh perlawanan terhadap kolonialisme sejak zaman Perang Diponegoro (1825-1830), hingga menjadi tokoh penggerak nasionalisme dan kemerdekaan.”Buku ini, ungkap penulis, diberi judul “Sufisme Jawa” karena Jawa merupakan bumi spiritual.

Selain itu, buku ini mengungkap fakta atas tuduhan bahwa sosok Kyai Muhammad Santri hanya sebuah mitos dengan sumber data yang kuat.

Related post