Hafal Al-Quran Tak Cukup Untuk Famah Islam

 Hafal Al-Quran Tak Cukup Untuk Famah Islam

Bogor, PCNU- Istilah kitab kuning sudah tidak asing lagi bagi para santri dan kiai yang pernah mengeyam pendidikan di pesantren terutama pesantren yang adanilai kesalafannya. Kitab tersebut sudah diajarkan sejak zaman dahulu oleh pendiri-pendiri Islam di Indonesia. 

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Riyadul Aliyah, KH Abbas Ma’ruf lembaga pendidikan pondok pesantren tidaklah lengkap tampa penerapan disiplin pembelajaran kitab kuning. Yang berisi ilmu tauhid, Fiqih, Ilmu alat, Ilmu Hadis, Ilmu Balaqoh dan ilmu Mantiq.”Walaupun pesantren Tahfidz sekalipun. Jika para santri tidak diajarkan kitab kuning yang berisi berbagaimacam ilmu, maka itu tidak lengkap,” terang Kiyai Abas dikediamannya pada Selasa (16/2).

Baca Juga :  Bentengi Anak di Era Pandemi, Ponpes Al- Huda Gelar Pesantren Weekend

Ulama yang menjabat sebagai Katib Syuriah PCNU Kabupaten Bogor ini juga menegaskan pentingnya pembelajaran literasi karya ulama terdahulu. Diantaranya ketinggian sastra Al Quran yang hanya dapat difahami dengan ilmu khusus.”Semua (ilmu,red) untuk memahami Agama Islam sudah ada di kitab kuning karya ulama kita. Kita hanya tinggal memanfaatkannya,”ucapnya.

Lebih lanjut Kiya Abas menegaskan. Dalam mempelajari kitab kuning juga harus melalui guru. Karena hal tersebut membantu pemahaman para penuntut ilmu. “Sederhanyanya, kita belajar dan ada yang bertanggungjawab. Dengan kata lain ilmu kita musalsal hingga ke sumbernya,”pungkasnya

Baca Juga :  Keutamaan Ibadah di Bulan Rajab

Untuk diketahui, kitab kuning adalah sebuah istilah yang disematkan kepada kitab-kitab yang berbahasa Arab, yang biasa digunakan oleh beberapa pesantren atau madrasah diniyah sebagai bahan pelajaran. Dinamakan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning. Adanya kitab kuning ini bertujuan untuk memudahkan orang dalam menyebut.

Sebutan “kitab kuning” iniAda juga yang adalah iri khas Indonesia. menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharakat, bahkan tidak ada tanda baca dan maknanya sama sekali. Tidak seperti layaknya kitab-kitab sekarang yang sudah banyak diberi makna dan harakat sampai catatanpingginya. 

Baca Juga :  Rumus Kebahagiaan Imam Al-Ghazali

Dengan kitab kuninglah pengujian dayapikir seseroang akan bahasa arab itu sangatlah teruji, karena dari setiap huruf lapadz bahkan juga kalimah itu mengandung arti dan tujuan tertentu. Maka dari itulah sangat penting kiranya lebih mendalami bahkan menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan langsung dengan semua permasalahan ilmu-ilmu dasar islam seperti yang ada dalam kitab-kitab kuning pada umumnya, meskipun untuk saat ini telah banyak kitab-kitab kuning yang telah di revisiyang telah dilengkapi dengan harakat danterjemahannya

Related post