Hukum Tato Pandangan Fiqih

 Hukum Tato Pandangan Fiqih

Bogor, PCNU- Zaman modern saat ini fenomena Tatto menjamur pada kalangan tertentu tapi juga kalangan remaja. Dan Tatto memang merupakan keindahan tersendiri. Apalagi jika tatto itu terlihat tampak indah. Walaupun dahulu Tatto hanya identik dengan pelaut, geng motor, bahkan kriminal.

Perlu diketahui, tattoo adalah sebuah seni merajah tubuh dengan berbagai macam tema, yang dituangkan pada bagian atas kulit tubuh, yang menurut kalangan tertentu merupakan sebuah sign kebanggaan dan mempunyai pesan bermakna.

Tattoo berasal dari bahasa Tahiti “tatu” yang artinya tanda. Tattoo menurut para ahli, sudah ada sejak 12.000 tahun SM. Konon zaman dahulu tattoo semacam ritual bagi suku-suku kuno seperti Maori, Inca, Ainu, Polynesians, dan lain-lain. Walaupun bukti-bukti sejarah tattoo ini tidak begitu banyak, tetapi para ahli mengambil kesimpulan tattoo tertua adalah di Mesir, konon gara-gara ekspansi mereka ke negara lain, seperti Yunani, Persia, dan Arab.

Baca Juga :  Menolak Bungkam

Namun, sekarang sepertinya tatto telah menjadi riasan tubuh yang populer untuk banyak orang tak hanya di luar negeri . Dan Tatto yang ditemui bukan lagi hanya berupa jangkar, tengkorak, dan kapal perang, tetapi tulisan cantik, bunga, desain etnik, hingga simbol yang dibuat sesuai selera mereka.

Dan bagi kalangan tertentu, tatto menjadi suatu karya yang konon dapat dipamerkan dan dikoleksi menuju fenonema gaya hidup masa kini.

Meski demikian, alangkah baiknya jika kita mampu untuk tidak bertatto. Sebab, menurut medis, proses tatto yang menyuntikkan zat apa pun ke kulit dapat merusak kesehatan. Seperti  resiko munculnya infeksi dan bisa jadi terjadi hepatitis, atau munculnya kutil. Kendati tatto pada saat ini sudah dapat dihapus dari kulit tubuh dengan laser. Namun ada juga tatto yang tak dapat dihilangkan secara permanen. Maka dari itu pikirkan dahulu sebelum mentatto tubuh jika hanya untuk gaya hidup.

Baca Juga :  penyebaran Agama Islam di Nusantara

Bagaimana Tatto Menurut Agama Islam

Perbuatan beratto dilarang berdasarkan hadits Nabi:

وَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud ra bahwa beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertatto dan para wanita yang minta ditatto, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: “Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran”, Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494].

Baca Juga :  Hati-hati! Penipu Ngaku Hafidz

Bagaimana yang Sudah Terlanjur Bertatto

Bagi yang sudah terlanjur memakainya wajib menghilangkannya sedapat mungkin bila memang tidak menimbulkan bahaya pada dirinya. Bila khawatir menimbulkan bahaya maka tidak wajib menghilangkannya dan ia juga tidak berdosa karenanya bila memang ia telah bertaubat.

Ketentuan ini wajib dihilangkan saat tattoo tersebut diukir pada tubuhnya dengan kerelaannya, tidak dipaksa waktu ia sudah baligh atau dewasa, bila terdapat sebelum dewasa atau dipaksa saat membuatnya maka tidak wajib dihilangkan.

Related post