Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir Anjurkan Masyarakat Muhammadiyah Ziarah Kubur.

PCNU, Kab.Bogor,Warta-Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir akhirnya secara tegas menganjurkan masyarakat Muhammadiyah ziarah kubur.

Secara kultural, perbedaan pendapat tentang ziarah kubur melekat di masyarakat Indonesia. Perbedaan tersebut terlihat antara dua ormas besar. Masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) membolehkan ziarah kubur. Namun sebaliknya, masyarakat Muhammadiyah cenderung melarangnya. Perbedaan itu kini tidak lagi begitu terasa.

Ketua Umum Muhammadiyah periode 2015-2020, akhirnya secara tegas menganjurkan masyarakat Muhammadiyah ziarah kubur. Berikut 5 alasan mengapa pria kelahiran Bandung ini membolehkan ziarah kubur:

  1. Makam Ki Bagus Hadikusumo Hilang

Ki Bagus Hadikusumo dikukuhkan sebagai pahlawan nasional sesuai keputusan Presiden No 116/TK Tahun 2015. Ki Hadikusumo memiliki peran besar dalam meletakkan dasar Mukaddimah dan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Pria kelahiran Yogjakarta ini merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang lahir pada 24 November 1890.

Namun sayang, pahlawan yang baru dikukuhkan ini dikabarkan makamnya hilang. Inilah salah satu alasan mengapa Ketua Umum Muhammadiyah menganjurkan ziarah kubur, seperti dikutip dari Muslimedianews.com.

  1. Mengenang Jasa Pahlawan
Baca Juga:  Mama Kiyai Haji Muhammad Basri Ulama Asal Bogor

Mengenang pahlawan merupakan suatu hal yang baik dan dianjurkan dalam Islam. Apalagi, Al-Qur’an menegaskan, “Jangan Anda kira bahwa para pahlawan yang terbunuh dalam peperangan tidaklah mati. Mereka hidup, namun kita tidak sadar” (QS Al-Baqaroh [2]: 154). Mengunjungi makam pahlawan sama saja bersilaturahmi di waktu hidupnya. Haedar Nashir pun membenarkan hal ini.

  1. Ziarah Kubur Sunah

Pria berusia 57 tahun ini menyatakan bahwa ziarah kubur itu sunah. Hal ini juga dipertegas oleh Nabi dalam hadis, “Awalnya aku melarang ziarah kubur. Namun, kini silakanlah berziarah, karena hal tersebut dapat memperkecil nafsu duniawi dan mengingatkan pada akhirat,” (H.R. Ibnu Majah).

Dalam kajian Usul Fikih mazhab Syafi’i, perintah setelah adanya larangan termasuk sunah (nadb). Hal ini juga berlaku dalam ziarah kubur.

  1. Ziarah Kubur Mengingat Mati

Seperti dikutip dari Muslimedianews.com, Haedar Nashir mengatakan bahwa ziarah merupakan sarana mengingat mati. Selain itu, ziarah kubur juga dapat menjadi jalan mengenang dan meneladani perilaku baik orang yang wafat.

Mengingat mati menyadarkan seseorang bahwa hidup ini tidak selamanya, sehingga diharapkan dapat memproteksi berbuat sesuatu yang dilarang Alloh.

  1. Ziarah Kubur Perlu Menjadi Tradisi asal Tidak Mengkeramatkan Kuburan.
Baca Juga:  Jutaan Ummat Banjiri Haul Mama Sempur

Catatan akhir terpenting adalah ziarah kubur merupakan sarana mendekatkan diri kepada Alloh, bukan mengkeramatkan kuburan atau meminta-minta pada orang mati. Bila demikian, hal tersebut dilarang dalam Islam.

Oleh: Ibnu Kharish, Mahasiswa Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Pernah jadi santri di Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *