KH Muhammad Nuh Addawami, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat

 KH Muhammad Nuh Addawami, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat

Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Muhammad Nuh Addawami

Bogor, PCNU Bogor Online

KH Muhammad Nuh Addawami lahir di Garut pada 1946. Pada masa mudanya ia adalah sosok santri kelana sejati. Sejak usia 12 tahun, ia berguru ke berbagai pesantren. Di wilayah Garut, ia mengaji ke Kubang, Munjul, Al-Huda, dan Sadang. Di Sumedang ia mengaji di Cikalama, dan di Tasikmalaya ia belajar di Cibeureum dan Cilendek.

Di antara pesantren-pesantren itu, ia nyantri paling lama di Al-Huda, Tarogong, Garut, dibawah bimbingan KH Sirojuddin (Mama Siroj). Sebelum kembali ke tempat kelahirannya untuk mukim pada 1968, ia kembali ngalap berkah dengan mengaji di pesantren tersebut. Ajengan Nuh tinggal di Cibojong, Cisurupan, sekitar 35 km dari pusat kota Garut, mengasuh Pesantren Nurul Huda yang didirikannya.

Baca Juga :  Ajengan Anwar Nasihin Hadapi Tokoh FPI dengan Akhlak dan Ilmu

Ceng Enoh, demikian umat menyapanya, aktif di NU mulai dari bawah, dari tingkat ranting. Kemudian MWCNU sampai di tingkat kabupaten. Dan kini, ia menjadi Rais Syuriyah PWNU Jabar. Dalam ber-NU, menurutnya, kekompakan antara syuriyah dan tanfidziyah itu ibarat suami dan istri. Syuriyah bagaikan suami dan tanfidziyah seperti isteri. Keduanya adalah orang tua bagi warga NU. Tentunya harus akur dan memberikan contoh dengan perilaku akhlaqul karimah bagi anak-anaknya agar mereka bertindak baik dan saleh.

Sementara hubungan NU dan pesantren, menurut dia, harus saling menjaga laksana hutan dan macan. Hutan akan jadi sasaran empuk pembalakan liar bila ditinggalkan macan. Sebaliknya, bila macan meninggalkan hutan, paling banter nasibnya hanya menjadi penghuni kebun binatang.

Baca Juga :  Ajengan Abun Cipasung, Tegas Tapi Humoris

Untuk pesantren, Ajengan Nuh menekankan soal kaderisasi pelanjut. Para pelanjutnya sedari awal harus dipelihara pikiran dan hatinya. Harus seimbang. Jangan sampai pesantren hanya mengedepankan tasawuf, karena itu akan tertipu. Jangan pula melulu fiqih, karena itu akan menipu.

Sementara NU, sebagai organisasi yang mempertahankan dan memperjuangkan Ahlussunah wal Jama’ah, yang paling esensi dipegang adalah sikap at-tawasuth, yakni tengah-tengah. Orangnya disebut mutawasith, penengah. Seorang mutawassith, wajib kiranya menyimpan enam prinsip ini: ar-ri’ayah (kepemimpinan), dzul himmatil ’aliyah (idealistis), al-mujahadah (patriotis), riyadlotun nafsi (melatih jiwa dengan latihan), al-akhlaqul karimah (akhlak luhur), hubbul ’isy-yatil akhirah (lebih mencintai kehidupan akhirat).

“Pengabdian itu kuncinya adalah ikhlas. Ikhlas mengabdi itu harus dibarengi dan berdasarkan pengertian serta kecintaan. Seperti kita beribadah, itu harus ada pengertian dan kecintaan kepada Ma’bud (zat yang diibadahi). Kalau sudah ada pengertian, otomatis dorongannya ikhlas, mengharapkan anugerah, ridha, dan rahmat dari Ma’bud itu. Jadi, pengabdian itu jangan berdasarkan ketidakmengertian, atau mengerti tapi tidak cinta, itu nantinya akan berabe. Maka kunci pengabdian adalah pengertian dan kecintaan.”

Baca Juga :  Dari Belajar Buat Sego Megono Hingga Akan Menjadi Jokyōju

Apa cita-cita ajengan yang piawai berceramah dengan bahasa Sunda yang mahir murwakanti ini?

“Cita-cita saya dan para kiai itu sama, hari esok itu harus lebih bagus dari hari sekarang. Sabda Rasulullah SAW riwayat Al-Hakim, ‘Barangsiapa berada dalam hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia itulah yang beruntung.”

Sumber: https://jabar.nu.or.id/detail/kh-muhammad-nuh-addawami–rais-syuriyah-pwnu-jawa-barat–bagian-1-