Kiai Ali Yafie, Ulama Besar yang Terus Membaca

 Kiai Ali Yafie, Ulama Besar yang Terus Membaca

KH Ali Yafie tak pernah berhenti membaca kitab kuning di usianya yang ke-94 tahun. (Foto: dok. keluarga. NU Jabar Online)

Bogor, PCNU Bogor Online

Puang, begitu kami memanggil Ayah yang pada 1 september 2020 genap berusia 94 tahun. Di setiap kesempatan menerima tamu, beliau senantiasa menyebut dirinya sebagai tawanan Allah dimuka bumi, karena keterbatasan gerak, ditopang tongkat, praktis keluar rumah hanya jika ziarah kubur ke makam ibu kami yang wafat 24 Januari lalu. Meski secara fisik sudah uzur namun semangat untuk belajar tidak pernah kendur, tiap hari membaca kitab kuning, baik di ruang perpustakaan atau di kamar tidur. 

Pada masa pendemi ini kesempatan kami untuk ngobrol sangat banyak, dan disela-sela waktu luang pembicaraan kami bisa berkembang luas. Ada satu thema menarik yang tidak bosan untuk digali, yaitu soal sikap beliau untuk tidak berlama-lama jika menduduki jabatan puncak. Sebut saja sewaktu di MUI, PBNU, Rektor IIQ dan ICMI.

Baca Juga :  Ajengan Abun Cipasung, Tegas Tapi Humoris

Bagi sebagian orang, keengganan beliau berlama-lama duduk sebagai pimpinan dianggap tindakan yang tidak bijak, atau bahkan tidak bertanggung jawab. Tidak dapat dipungkiri, banyak di antara kita memandang jabatan puncak itu adalah berkah, tujuan akhir, amanah mulia, ajang pembuktian diri, atau sarana pengabdian yang lebih luas, sangat membanggakan dan pasti diperjuangkan dengan susah payah, penuh pengorbanan dan karenanya ketika mencapainya wajar jika banyak hak istimewa yang didapatkan. Namun sejarah juga membuktikan banyak orang mengalami perubahan sikap dan perilaku ketika sudah sampai ke puncak dan ingin berlama-lama di atasnya. 

Baca Juga :  Dari Belajar Buat Sego Megono Hingga Akan Menjadi Jokyōju

Lalu apa jawaban yang beliau sampaikan? Singkat saja, ibda’ binafsik. Apakah artinya hanya sekedar bahwa segalanya bermula dari dirimu? Jika ingin menjadi tauladan, berikanlah dulu contohnya. Apa itu cukup? Nampaknya tidak.  Ada hal yang lebih mendasar dari sekedar menjadi tauladan, kata beliau, periksa dulu dirimu dan bertanyalah pada hati kecilmu, apakah saya mampu? 

Bukankah jika seseorang sudah mencapai puncak jabatan atau karirnya itu adalah akumulasi dari seluruh kemampuannya? Kira-kira begitu pembenaran kita. Lalu beliau melanjutkan, puncak dari kemampuan seseorang itu adalah ketika ia sanggup mempertanggujawabkan apa yang dia lakukan. 

Baca Juga :  Asal Usul Gelar “Hadratussyaikh” untuk KH. Hasyim Asy’ari

Menurut beliau, jabatan atau sejenisnya adalah fardhu kifayah, kewajiban kolegial, tapi pertanggujawabannya adalah fardhu ‘ain, kewajiban individual. 
“Jadi jika saya,” kata beliau, “menolak berlama-lama menduduki sebuah jabatan puncak, bukan bermaksud lari dari tanggungjawab atau tidak menghargai harapan banyak orang, tapi semata-mata khawatir tidak sanggup mempertanggujawabkannya. Bukan saja di dunia tapi di akhirat. Jadi saya harus tahu diri,” lanjutnya mengakhiri pembicaraan.

Mungkin dengan prinsip hidup seperti itulah beliau bisa menikmati masa tua dengan tenang dan tanpa beban. Raganya boleh tertawan, tapi jiwanya selalu menawan. 

Barakallah fii umrik, Puang.

Sumber: https://jabar.nu.or.id/detail/kiai-ali-yafie–ulama-besar-yang-terus-membaca

Related post