Kisah Peserta Tertua Diklatsar Banser Puncak

 Kisah Peserta Tertua Diklatsar Banser Puncak


PCNU, Bogor – Semangat untuk mengikuti kegiatan Diklatsan Banser tak hanya dimiliki oleh kaula muda. Generasi tua (Syaikh) juga turut mengikuti kegiatan tersebut. Seperti Dedi Rustandi Pria kelahiran Bogor 16 Februari 1968 ini memaksakan diri untuk menjadi anggota banser.


Warga Kampung Jampang, RT 03/02, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor ini mengaku sejak lama ingin bergabung dengan banser. Saat masih muda, ia menjadi pegawai desa yang menghabiskan waktunya untuk mengabdi di tempat ia bekerja.


“Dari muda dulu mau ikut banser. Tapi selalu ga bisa ninggalin kerjaan. Sekarang sudah ga jadi staf desa, alhamdulillah bisa ikut.,” kata Dedi pada Jumat (5/3/2021)

Baca Juga :  Puluhan Siswa Ikuti MAKESTA Di PONPES AL HUDA


Meskipun telah memiliki cucuk sebanyak 12 orang. Dedi mengaku tak malu untuk menjemput cita-citanya yang telah lama ia idam-idamkan yaitu menjadi anggota banser.
Hanya saja, di usianya yang telah menua. Dedi kembali terbentur dengan ekonomi karna tak lagi memiliki penghasilan tetap.


“Saya kadang nguli bangunan kadang supir. Jadi ga ada gaji kaya waktu jadi staf desa dulu,” tuturnya.


Meskipun hidup berkekurangan. Ia memiliki harapan besar untuk bergabung dalam banser walaupun kemampuan finansial tak memadai, Mukti merasa yakin dengan kekuatan doa.
Hingga pada tiap Sholat, di sujud trakhirnya, Dedi selalu berdoa untuk dapat kesempatan mengikuti diklatsar. “Kata guru saya, di sujud terakhir kalau doa bisa di kabul (ijabah)” tukasnya.

Baca Juga :  Haul KH.R.Mukhtar Royani Terapkan Protokol Kesehatan


Tak hanya itu, Dedi juga meminta doa pada ke lima anaknya. Sampai para anaknya merasa aneh dengan permintaan Dedi yang tiba-tiba meminta untuk menjadi anggota Banser.


“Sebelumnya saya minta maaf. Trus saya minta doa untuk bisa jadi anggota banser. Anak saya sampe bingung,” kata Dedi dibarengi klakar tawa.


Setelah menunggu beberapa hari. Tepat pada hari Rabu (3/3/2021) di Dedi dipanggil oleh kepala desa untuk merapihkan puing bangunan baru kantor desa yang berada di sisi kanan kantor desa lama. Saat itu saya bercerita pada kepala desa mengenai keinginan saya untuk menjadi anggota banser dan tiba-tiba kepala desa berjanji akan membantu.

Baca Juga :  NU, Soft Power, Diplomasi Sains dan Perdamaian Dunia


“Kapan acaranya? Nanti saya bantu ongkosnya, kata kades,” terang Dedi meniru perkataan kades.


Al hasil, Dedi berikan ongkos sebesar Rp 300 ribu. Uang itu digunakannya untuk mendaftar dan ongkos berangkat ke lokasi acara.

Related post