Siapakah Raqib-Atid?

 Siapakah Raqib-Atid?

(Foto: FB Imam Nakha’i)

Bogor, PCNU – Siapakah Raqib-Atid? Siapa yang banyak tahu, harus belas kasih.

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَیۡبِ لَا یَعۡلَمُهَاۤ إِلَّا هُوَۚ وَیَعۡلَمُ مَا فِی ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا یَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةࣲ فِی ظُلُمَـٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبࣲ وَلَا یَابِسٍ إِلَّا فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِینࣲ﴾ [الأنعام ٥٩]

Hanya di sisi Allah kunci kunci hal hal yang ghaib, hanya Ia yang mengetahuinya. Allah mengetahui apapun yang ada di daratan dan lautan. Tidak ada satu daun pun yang lepas dari dahan dahan pohonnya kecuali Allah mengetahuinya, demikian pula tidak ada satu bijipun, suatu yang masih hijau royo royo, yang sudah mengering di belantara planet bumi ini kecuali seluruhnya sudah tertulis dalam kitab yg terang benderang. (QS al An’am 59)

Baca Juga :  Membaca Posisi NU di Jawa Barat

﴿مَّا یَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَیۡهِ رَقِیبٌ عَتِیدࣱ﴾ [ق ١٨]

Tidak ada setangkai ucapan yang terucap (dan tidak ada tindakan yg terbuat) kecuali di sisinya ada yang mengawasi (raqib) dan yg bersiap mencatatnya (‘atiid).

Raqib-Atid adalah malaikat yg diberi tugas oleh Allah untuk mengawasi dan -jika disetujui oleh Allah- sekaligus menuliskan seluruh tingkah laku umat manusia, tindakan dan ucapannya.

Baca Juga :  Apa Dasar Puasa Sunah Bulan Rajab? Ini Alasannya

Konon, ketika manusia berbuat baik, bahkan ketika meniatkan berbuat baik, Allah langsung memerintahkan kepada Raqib-Atid untuk menuliskannya. Namun jika manusia berbuat kejelekan, maka Allah masih memberikan kesempatan untuk bertaubat dalam beberapa jam (saat) kedepan. Jika bertaubat maka, Raqib-Atid tidak diizinkan menulisknnya. Jika tidak bertaubat, barulah Allah memerintahkan untuk ditulis sebagai “satu kejelekan”.

Itulah tugas Raqib-Atid, mengawasi dan bersiap menuliskan. Ketika mengawasi, ia disebut Raqib, ketika bersiap menuliskan, ia disebut Atiid. Jadi Raqib Atiid adalah “satu malaikah”. Bukan dua, satu dikanan,satu dikiri, sebagai jamak dipahami.

Baca Juga :  Lima Kriteria Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali

Dua ayat di atas menggambarkan bagaimana kemahatahuaan Allah, Namun disaat yang sama kemahaksih-sayang Nya. Dia Maha Tahu, tapi maha kasih sayang. Inilah Ahlak Allah yang perlu di contoh. Bahaya jika ada orang banyak tahu apa saja, tetapi tidak belas kasih.

Imam Nakhai, Anggota Komnas Perempuan. Mengajar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerojo, Situbondo, Jawa Timur.

Related post

Opini

Menolak Bungkam