Ziarah Makam Syekh Quro

PCNU Kab.Bogor, Warta- Sunyi terasa ketika tiba di makam Syekh Quro pada Kamis (23/07/2020) Pukul 01:00.

Ketika tim PCNU Kab.Bogor Online tiba di lokasi, hanya ada tiga orang pria disisi malam yang khusu melantunkan tahlil dan dzikir. Tak lama berselang, beberapa jamaah datang dan turut melakukan ritual serupa.

Hingga tiga jam berada di lokasi tersebut, duyunan masyarakat berdatangan silih berganti. Tentu saja, makam kersebut sering dilancongi penziarah karena Shohibul Maqom adalah ulama besar.

Informasi yang dihimpun, Syekh Quro adalah salah satu ulama penyebar agama Islam pertama di tanah Sunda. Menurut keterangan literasi yang ada, Syekh Quro memiliki nama asli yakni Syekh Hasanuddin atau Syekh Qurotul Ain atau Syekh Mursahadatillah yang masih dzuriah atau keturunan dari Sayidina Husein bin Sayidina Ali, Karomallohuwajhah.

Adapun Makam Syekh Quro terletak di Pulo Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diriwayatkan, awal mula penyebaran agama Islam di Tanah Sunda khususnya di Kabupaten Karawang bermula ketika Syekh Quro mendirikan Pondok Pesantren yang bernama Pondok Quro, yang memiliki arti tempat untuk belajar Alquran pada tahun 1418 M atau 1340 Saka.

Perjuangan Syekh Quro tidaklah mudah dalam berdakwah di tanah Sunda, karena sebelum berpindah untuk berdakwah di Karawang, Syekh Quro sempat dilarang oleh Raja Pajajaran saat itu adalah Prabu Angga Larang ketika beliau melakukan dakwah di Cirebon.

Baca Juga:  Gus Mus:Renungi Hikmah di Balik Corona

Karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah, Syekh Quro akhirnya memilih untuk berpindah ke Karawang. Meskipun perjuangan beliau tidak mudah dalam melakukan penyebaran agama Islam, pada akhirnya beliau mampu diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Meskipun pada saat itu mayoritas masyarakat luas belum menganut agama Islam.

Salah satu bukti nyata jasa beliau selain mampu membawa agama Islam dengan santun tanpa adanya kekerasan juga menjadi Ulama yang mampu membangun sebuah masjid di dalam komplek Pondok Quro yang dibangun beliau. Sekarang masjid tersebut bernama Masjid Agung Karawang yang masih berdiri kokoh ditengah alun-alun Kota Karawang,

Syekh Quro merupakan penganut ahlussunah waljamaah bermazhab Imam Hanafi yang datang ke Karawang bersama para santrinya yakni, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur, dan Nyai Subang Larang.

Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam, Syekh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari putri dari Ki Gedeng Karawang, dari pernikahan itu lahirlah seorang putra yang bernama Syekh Akhmad, yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Baca Juga:  Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir Anjurkan Masyarakat Muhammadiyah Ziarah Kubur.

Syekh Quro memiliki seorang santri kesayangan yang membantu dakwahnya, menyebarkan ajaran Agama Islam di Karawang, santri kesayangan beliau bernama Syekh Abdullah Dargom alias Syekh Darugem bin Jabir Modafah alias Syekh Maghribi yang masih keturunan dari Sayyidina Usman bin Affan RA yang kelak dikenal dengan nama Syekh Bentong alias Tan Go yang meneruskan perjuangan dakwah Syekh Quro kedepannya. Syekh Bentong memiliki seorang istri yang bernama Siu Te Yo dan mereka mempunyai seorang putri yang diberi nama Siu Ban Ci.

Ketika usia anak Syekh Quro dan Ratna Sondari beranjak dewasa, Syekh Quro akhirnya menugaskan santri–santrinya untuk dakwah kebagian selatan Karawang. Diantaranya yakni, Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur, tepatnya ke Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan, dan Tegalwaru sekarang ini.

Sedangkan putrra Syekh Quro dengan Ratna Sondari yang bernama Syekh Ahmad, ditugaskan oleh sang ayah meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Agama Islam di Pesantren Quro Karawang atau Masjid Agung Karawang sekarang.

Sementara santri yang lain yakni Syekh Bentong ikut bersama Syekh Quro dan Ratna Sondari istrinya pergi ke bagian Utara Karawang tepatnya ke Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang sekarang, untuk menyebarkan ajaran Islam dan bermunajat kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Mama Kiyai Haji Muhammad Basri Ulama Asal Bogor

Di Pulo Bata Syekh Quro dan Syekh Bentong membuat sumur yang bernama Sumur Awisan, yang sampai saat ini sumur tersebut masih dipergunakan.

Syekh Quro akhirnya meninggal dan dimakamkan di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Sebelum meninggal Syekh Quro berwasiat kepada santri – santrinya. “Ingsun Titip Masjid Langgar Lan Fakir Miskin Anak Yatim Dhuafa”.

Sepeninggal Syekh Quro, perjuangan penyebaran Islam di Pulo Bata diteruskan oleh Syekh Bentong sampai akhir hayatnya Syekh Bentong.

Makam Syekh Quro Karawang dan Makam Syekh Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha pada tahun 1859 Masehi atau pada abad ke – 19.

Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha ditugaskan oleh Kesultanan Cirebon untuk mencari makam Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syekh Quro.

Bukti adanya makam Syekh Quro Karawang di Pulo Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Karawang, diperkuat lagi oleh Sunan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin saat berkunjung ke tempat itu, dan beliau memberikan surat pernyataan Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *